Analoginya ialah, kita seorang manusia hanyalah seutas tali.
Mungkin kuat untuk mengikat, mungkin lemah jika putus.
Tapi tak ayalnya seorang makhluk yang tak luput dari kesalahan, sampai-sampai mengiris hati makhluk lain.
Kau mungkin takut mengungkapkan atau mungkin matamu telah tertutup debu yang menyesatkan.
Tapi jika ditanya diri ini, kata menyesal mungkin terlampiaskan, tapi tak ayal pun kau bahagia dengan hidupmu yang baru.
Menjadi yang tak selalu berkecukupan, mencari cari yang terbaik, terindah dan akan selalu begitu, akhirnya saja melepaskan.
Tapi tenanglah, diri ini sudah cukup bahagia untuk menjalani hidupnya, kau bahagia, aku bahagia.
Mungkin suatu saat nanti berjumpa, ketika kebanggaan dalam diri ini telah muncul, kita ada waktu untuk mengenal lebih jauh.
Mungkin aku kurang ajar, tapi jujur saja, mata pelangimu tertutup debu menyesatkan yang mencelakai kisah ini.
Mungkin kuat untuk mengikat, mungkin lemah jika putus.
Tapi tak ayalnya seorang makhluk yang tak luput dari kesalahan, sampai-sampai mengiris hati makhluk lain.
Kau mungkin takut mengungkapkan atau mungkin matamu telah tertutup debu yang menyesatkan.
Tapi jika ditanya diri ini, kata menyesal mungkin terlampiaskan, tapi tak ayal pun kau bahagia dengan hidupmu yang baru.
Menjadi yang tak selalu berkecukupan, mencari cari yang terbaik, terindah dan akan selalu begitu, akhirnya saja melepaskan.
Tapi tenanglah, diri ini sudah cukup bahagia untuk menjalani hidupnya, kau bahagia, aku bahagia.
Mungkin suatu saat nanti berjumpa, ketika kebanggaan dalam diri ini telah muncul, kita ada waktu untuk mengenal lebih jauh.
Mungkin aku kurang ajar, tapi jujur saja, mata pelangimu tertutup debu menyesatkan yang mencelakai kisah ini.
Comments
Post a Comment