Permisi, puan.
Setelah ribuan kata telah terucap diantara kita berdua.
Setelah ribuan detik telah terlewati bersama.
Tak pernahkah dirimu merasa tercukupi atas diriku, puan?
Sudikanlah diri ini mengutarakan rasa maaf.
Bila diriku ini masih belum cukup untuk puan pahat dalam relung hati.
Puan, salahkah diri ini menagih janji atas perkataan bermakna janji diantara kita?
Diri ini tak pernah menuntut banyak hal atas dirimu, puan.
Seironi itukah sampai dirimu itu tak bisa melakukan hal yang sama?
Puan, aku pernah mendengar ribuan kisah
Konon terjadi sebuah ikatan didasarkan atas menerima satu sama lain dengan penuh suka cita dan lara berpadu.
Lalu, mau sampai kapankah puan begini terus?
Puan, pernahkah puan sadar, bahwa diri ini menunggu puan?
Menunggu puan sadar memang terasa melelahkan bersulam lara.
Tapi puan.
Diri ini merasa tercukupi dengan warna-warni puan.
Aku tentu paham puan.
Jika kita berdua ini tidak bertanah yang seragam.
Tanah yang kita pijak ini terpisah oleh hamparan lautan, tempat para burung camar bermain.
Tapi pernah dirisalahkan, jarak hanyalah susunan angka yang dipisahkan oleh niatan.
Lalu puan, jikalau diri ini berniat keras, sekeras berdirinya Himalaya.
Kapankah puan siap untuk itu?
Jika puan sudah dapatkan jawabannya, puan tentu tahu.
Bahwa puan dapat menyapaku yang sedang berdiri tegak di kesunyian bersama pengharapan atas dirimu.
Setelah ribuan kata telah terucap diantara kita berdua.
Setelah ribuan detik telah terlewati bersama.
Tak pernahkah dirimu merasa tercukupi atas diriku, puan?
Sudikanlah diri ini mengutarakan rasa maaf.
Bila diriku ini masih belum cukup untuk puan pahat dalam relung hati.
Puan, salahkah diri ini menagih janji atas perkataan bermakna janji diantara kita?
Diri ini tak pernah menuntut banyak hal atas dirimu, puan.
Seironi itukah sampai dirimu itu tak bisa melakukan hal yang sama?
Puan, aku pernah mendengar ribuan kisah
Konon terjadi sebuah ikatan didasarkan atas menerima satu sama lain dengan penuh suka cita dan lara berpadu.
Lalu, mau sampai kapankah puan begini terus?
Puan, pernahkah puan sadar, bahwa diri ini menunggu puan?
Menunggu puan sadar memang terasa melelahkan bersulam lara.
Tapi puan.
Diri ini merasa tercukupi dengan warna-warni puan.
Aku tentu paham puan.
Jika kita berdua ini tidak bertanah yang seragam.
Tanah yang kita pijak ini terpisah oleh hamparan lautan, tempat para burung camar bermain.
Tapi pernah dirisalahkan, jarak hanyalah susunan angka yang dipisahkan oleh niatan.
Lalu puan, jikalau diri ini berniat keras, sekeras berdirinya Himalaya.
Kapankah puan siap untuk itu?
Jika puan sudah dapatkan jawabannya, puan tentu tahu.
Bahwa puan dapat menyapaku yang sedang berdiri tegak di kesunyian bersama pengharapan atas dirimu.
Comments
Post a Comment